Breaking News

4 Pelukis Terkenal Indonesia dan Alirannya

4 Pelukis Terkenal Indonesia dan Alirannya – Hakikat seni adalah sarana untuk mengekspresikan ekspresi atau rasa di dalam media. Media yang terlibat dapat memiliki arti yang luas, seperti musik, tari, drama, seni, dll. Bahkan, Anda juga bisa menuangkan seni dengan menampilkan ekspresi yang lebih kaya di bagian depan dan belakang kaos polos.

4 Pelukis Terkenal Indonesia dan Alirannya

Sumber : layongmodernpainter.com

jean-michel-basquiat – Bicara seni rupa, ternyata banyak sekali seniman Indonesia yang namanya mampu menyedot perhatian banyak orang, bahkan memukau setiap pelosok dunia lewat lukisannya.

Tentu saja, jalan yang diambil para master ini tidaklah mudah. Pasang surut, peluh, air mata, dan kekecewaan membuat harinya dihias dengan begitu indah sehingga perjuangan mereka dibalas dengan penobatan sang “legendaris” karena karya yang niscaya indah.

Pada dasarnya setiap pelukis memiliki ciri dan keistimewaannya masing-masing, yang membuat mereka unik. Dengan terus mengasah kemampuannya, beberapa di antaranya bisa mengalahkan pelukis internasional di pameran tersebut Ingin tahu siapa saja para master berikut ini? Mari kita lihat!

Berikut 4 Pelukis Terkenal Indonesia dan Alirannya

 Baca Juga : Unsur-Unsur Seni Rupa dan Penjelasannya

1. Raden Saleh Sjarif Boestaman (1807-1880)

Sumber : christies.com

Raden Saleh Sjarif Boestaman adalah pelukis Indonesia beretnis Arab-Jawa yang mempionirkan seni moderen Indonesia (saat itu Hindia Belanda). Lukisannya merupakan perpaduan Romantisisme yang sedang terkenal di Eropa sementara itu dengan elemen-elemen yang menunjukkan latar belakang Jawa sang pelukis.

Raden Saleh dilahirkan didalam sebuah keluarga Jawa ningrat. Dia adalah cucu dari Sayyid Abdoellah Boestaman dari sisi ibunya. Ayahnya adalah Sayyid Hoesen bin Alwi bin Awal bin Jahja, seorang keturunan Arab. Ibunya bernama Mas Adjeng Zarip Hoesen, tinggal di tempat Terboyo, dekat Semarang. Sejak usia 10 tahun, ia diserahkan pamannya, Bupati Semarang, kepada orang-orang Belanda atasannya di Batavia. Kegemaran menggambar menjadi menonjol sewaktu bersekolah di sekolah rakyat (Volks-School).

Keramahannya bergaul memudahkannya masuk ke lingkungan orang Belanda dan lembaga-lembaga elite Hindia Belanda. Seorang kenalannya, Prof. Caspar Reinwardt, pendiri Kebun Raya Bogor sekaligus Direktur Pertanian, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan untuk Jawa dan pulau sekitarnya, menilainya pantas mendapat ikatan dinas di departemennya. Kebetulan di lembaga itu ada pelukis keturunan Belgia, A.A.J. Payen yang didatangkan dari Belanda untuk sebabkan lukisan pemandangan di Pulau Jawa untuk hiasan kantor Departemen van Kolonieen di Belanda. Payen tertarik pada bakat Raden Saleh dan berinisiatif mengimbuhkan bimbingan.

Payen sebenarnya tidak menonjol di kalangan pakar seni lukis di Belanda, tetapi mantan mahaguru Akademi Senirupa di Doornik, Belanda, ini cukup menolong Raden Saleh mendalami seni lukis Barat dan belajar tehnik pembuatannya, apabila melukis dengan cat minyak. Payen termasuk mengajak pemuda Saleh didalam perjalanan dinas keliling Jawa melacak tipe pemandangan untuk lukisan. Ia pun menugaskan Raden Saleh menggambar tipe-tipe orang Indonesia di tempat yang disinggahi.

Terkesan dengan bakat luar biasa anak didiknya, Payen mengusulkan supaya Raden Saleh dapat belajar ke Belanda. Usul ini mendapat dukungan oleh Gubernur Jenderal G.A.G.Ph. van der Capellen yang memerintah sementara itu (1819-1826), sesudah ia memandang karya Raden Saleh.

Tahun 1829, hampir sejalan dengan patahnya perlawanan Pangeran Diponegoro oleh Jenderal Hendrik Merkus de Kock, Capellen membiayai Saleh belajar ke Belanda. Namun, keberangkatannya itu menyandang misi lain. Dalam surat seorang pejabat tinggi Belanda untuk Departemen van Kolonieen tertulis, sepanjang perjalanan ke Belanda Raden Saleh bertugas mengajari Inspektur Keuangan Belanda de Linge tentang adat-istiadat dan kebiasaan orang Jawa, Bahasa Jawa, dan Bahasa Melayu. Ini menunjukkan kecakapan lain Raden Saleh.

Belajar ke Eropa

Dua tahun pertama di Eropa ia manfaatkan untuk memperdalam bhs Belanda dan belajar tehnik mencetak manfaatkan batu. Sedangkan soal melukis, sepanjang lima tahun pertama, ia belajar melukis potret dari Cornelis Kruseman dan tema pemandangan dari Andries Schelfhout gara-gara karya mereka mencukupi selera dan kualitas rasa seni orang Belanda sementara itu. Krusseman adalah pelukis istana yang kerap menerima pesanan pemerintah Belanda dan keluarga kerajaan.

Raden Saleh tambah mantap memilih seni lukis sebagai jalur hidup. Ia menjadi dikenal, malah berkesempatan berpameran di Den Haag dan Amsterdam. Melihat lukisan Raden Saleh, penduduk Belanda terperangah. Mereka tidak menyangka seorang pelukis muda dari Hindia dapat menguasai tehnik dan menangkap watak seni lukis Barat.

Saat era belajar di Belanda usai, Raden Saleh mengajukan permintaan supaya boleh tinggal lebih lama untuk belajar “wis-, land-, meet- en werktuigkunde (ilmu pasti, ukur tanah, dan pesawat), selain melukis. Dalam perundingan pada Menteri Jajahan, Raja Willem I (1772-1843), dan pemerintah Hindia Belanda, ia boleh menangguhkan kepulangan ke Indonesia. Tapi beasiswa dari kas pemerintah Belanda dihentikan.

Saat pemerintahan Raja Willem II (1792-1849) ia mendapat bantuan serupa. Beberapa tahun lantas ia dikirim ke luar negeri untuk menaikkan ilmu, apabila Dresden, Jerman. Di sini ia tinggal sepanjang lima tahun dengan standing tamu kehormatan Kerajaan Jerman, dan diteruskan ke Weimar, Jerman (1843). Ia ulang ke Belanda tahun 1844. Selanjutnya ia menjadi pelukis istana kerajaan Belanda.

Wawasan seninya pun tambah berkembang sejalan kekaguman pada karya tokoh romantisme Ferdinand Victor Eugene Delacroix (1798-1863), pelukis Prancis legendaris. Ia pun terjun ke dunia pelukisan hewan yang dipertemukan dengan karakter agresif manusia. Mulailah pengembaraannya ke banyak tempat, untuk menghayati unsur-unsur dramatika yang ia cari.

Saat di Eropa, ia menjadi saksi mata revolusi Februari 1848 di Paris, yang berkenan tak berkenan pengaruhi dirinya. Dari Prancis ia dengan pelukis Prancis kenamaan, Horace Vernet, ke Aljazair untuk tinggal sepanjang lebih dari satu bulan pada tahun 1846. Di kawasan inilah lahir ilham untuk melukis kehidupan satwa di padang pasir. Pengamatannya itu membuahkan sejumlah lukisan perkelahian satwa buas didalam wujud pigura-pigura besar. Negeri lain yang ia kunjungi: Austria dan Italia. Pengembaraan di Eropa berakhir tahun 1851 dikala ia pulang ke Hindia dengan istrinya, wanita Belanda yang kaya raya.

Kembali ke Hindia Belanda

Saleh ulang ke Hindia Belanda pada 1852 sesudah 20 tahun menetap di Eropa. Dia bekerja sebagai konservator lukisan pemerintahan kolonial dan mengerjakan sejumlah portret untuk keluarga kerajaan Jawa, sambil terus melukis pemandangan. Namun dari itu, ia mengeluhkan akan ketidaknyamanannya di Jawa. “Disini orang hanya bicara tentang gula dan kopi, kopi dan gula” ujarnya di sebuah surat.

Saleh membangun sebuah tempat tinggal di sekitar Cikini yang didasarkan istana Callenberg, di mana ia dulu tinggal sementara berada di Jerman. Dengan taman yang luas, lebih dari satu besarnya dihibahkan untuk kebun binatang dan taman lazim pada 1862, yang tutup sementara peralihan abad. Pada 1960, Taman Ismail Marzuki dibangun di bekas taman tersebut, dan rumahnya sampai saat ini tetap berdiri sebagai Rumah Sakit PGI Cikini.

Pada 1867, Raden Saleh menikahi gadis keluarga ningrat keturunan Kraton Yogyakarta bernama Raden Ayu Danudirja dan rubah ke Bogor, di mana ia menyewa sebuah tempat tinggal dekat Kebun Raya Bogor yang berpemandangan Gunung Salak. Di lantas hari, Saleh mempunyai istrinya berjalan-jalan ke Eropa, mengunjungi negeri-negeri seperti Belanda, Prancis, Jerman, dan Italia. Namun istrinya jatuh sakit sementara di Paris, sakitnya tetap tidak diketahui sampai sekarang, dan keduanya pun pulang ke Bogor. Istrinya lantas meninggal pada 31 Juli 1880, sesudah kematian Saleh sendiri 3 bulan sebelumnya.

Kematian

Pada Jum’at pagi 23 April 1880, Saleh tiba-tiba jatuh sakit. dari hasil pengecekan diketahui bahwa aliran darahnya terhalang gara-gara pengendapan yang berlangsung dekat jatungnya. Ia dikuburkan dua hari lantas di Kampung Empang, Bogor. Seperti yang dilaporkan koran Javanese Bode, pemakaman Raden “dihadiri sejumlah tuan tanah dan pegawai Belanda, dan juga sejumlah murid penasaran dari sekolah terdekat.”

Lukisan

Tokoh romantisme Delacroix dinilai pengaruhi karya-karya selanjutnya Raden Saleh yang mengetahui menampilkan kepercayaan romantismenya. Saat romantisme berkembang di Eropa di awal abad 19, Raden Saleh tinggal dan berkarya di Prancis (1844 – 1851).

Ciri romantisme terlihat didalam lukisan-lukisan Raden Saleh yang mengandung paradoks. Gambaran keagungan sekaligus kekejaman, cerminan harapan (religiusitas) sekaligus ketidakpastian takdir (dalam realitas). Ekspresi yang dirintis pelukis Prancis Gerricault (1791-1824) dan Delacroix ini diungkapkan didalam kondisi dramatis yang mencekam, lukisan kecoklatan yang membuang warna abu-abu, dan ketegangan gawat pada hidup dan mati.

Lukisan-lukisannya yang dengan mengetahui menampilkan ekspresi ini adalah bukti Raden Saleh seorang romantisis. Konon, lewat karyanya ia menyindir nafsu manusia yang terus mengusik makhluk lain. Misalnya dengan berburu singa, rusa, banteng, dll. Raden Saleh terkesan tak hanya menyerap pendidikan Barat tetapi termasuk mencernanya untuk menyikapi realitas

di hadapannya. Kesan kuat lainnya adalah Raden Saleh percaya pada idealisme kebebasan dan kemerdekaan, maka ia menentang penindasan. Seperti yang dilansir wikipedia

2. Abdullah Suriosubroto (1878-1941)

Sumber : goodminds.id

Abdullah Suriosubroto lahir di Semarang pada tahun 1878. Wahidin Sudirohusodo, salah satu tokoh pergerakan nasional Indonesia. Ia diakui sebagai pelukis Indonesia pertama di abad ke-20.

Awalnya, Abdullah mengikuti jejak ayah angkatnya ke fakultas kedokteran di Jakarta. Setelah lulus dari Jakarta, ia melanjutkan studi ke Belanda. Setelah menetap di sana, tiba-tiba Abdullah beralih ke seni lukis dan masuk sekolah seni.

Setelah kembali ke Indonesia, Abdullah tetap stabil sebagai pelukis. Ia sangat menyukai landscape dan ia sering menempatkan landscape dalam lukisannya.

Keputusan yang diambilnya saat ia masih muda tidak sia-sia, berkat karya yang ia ciptakan, ia masuk dalam genre “Mooi Indie” atau “Hindia Indah”.

Abdullah Suriosubroto sering dibicarakan melalui lukisan cat minyaknya karena ia melihat alam dari kejauhan dan sifatnya romantis.

Seorang pelukis ternama Indonesia menghabiskan sebagian besar waktunya di Bandung untuk mendekati pemandangan alam, kemudian akhirnya pindah ke Yogyakarta dan meninggal dunia pada tahun 1941.

3. Affandi Koesoema (1907-1990)

Sumbebr : kelambit.com

Diantara para maestro dan legenda pelukis kondang Indonesia, mungkin Affandi lah yang memakai tehnik lukis paling aneh. Ia melukis tidak memakai kuas.

Proses awal yang ia melakukan adalah menumpahkan cat-cat berwarna ke didalam kanvas, kecuali dicermati mungkin akan berikan kesan yang amburadul. Namun setelah itu Affandi akan menyikat warna-warna cat berikut dengan jarinya sampai step finishing dengan hasil yang menawan.

Affandi Koesoema termasuk seniman yang berumur panjang. Ia lahir di Cirebon terhadap tahun 1907 dan meninggal terhadap tahun 1990.

Affandi digadang-gadang sebagai pelukis Indonesia yang paling kondang di kancah dunia, berkat gaya ekspresionisnya dan romantisme yang khas. Pada tahun 1950-an ia banyak mengadakan pameran tunggal di Amerika Serikat, Inggris, India dan Eropa.

Ia termasuk dikenal sebagai sosok yang sederhana dan rendah hati. Pernah terhadap suatu ketika, kritisi lukisan berasal dari Barat bertanya apa gerangan aliran-aliran lukisannya. Tanpa disangka ia jadi balik bertanya dan berharap kritikus Barat berikut untuk menjelaskan tentang aliran-aliran yang tersedia didalam lukisan.

Namun, banyak orang yang menilainya jenius. Karena semasa hidupnya Affandi sudah menghasilkan karya lebih berasal dari 2000.

 Baca Juga : Mengenal Sejarah Musik Keroncong dan Alat Musiknya

4. Agus Djaya (1913-1994)

Sumber : uun-halimah.blogspot.com

Pelukis populer Indonesia ini lahir berasal dari keluarga Bangsawan Banten pada tanggal 1 April 1913 dengan nama asli Raden Agus Djaja Suminta.

Dengan latar belakang tersebut, tak heran ia meraih pendidikan yang baik. Setelah menamatkan pendidikan di Indonesia, Agus Djaja melanjutkan belajar di Akademi Rijks (Academy of Fine Art) Amsterdam, Belanda.

Selama berada di Eropa, ia sempat berkenalan dengan lebih dari satu seniman besar dunia, di antaranya Pablo Picasso, Salvador Dali juga Ossip Zadkine, pematung Polandia yang terkenal.

Sekembalinya ke Indonesia Agus Djaja mendirikan Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) sekaligus memimpinnya pada tahun 1938-1942 yang merupakan organisasi pertama seniman senirupa di Indonesia. Oleh karena itu, Agus Djaja dinyatakan sebagai keliru seorang cikal bakal seni lukis Indonesia.

Setelah itu, ia direkomendasikan oleh Bung Karno untuk jadi Ketua Pusat Kebudayaan Bagian Senirupa pada tahun 1942-1945.

Selain jadi pelukis, pada masa revolusi kemerdekaan Agus Djaja aktif sebagai Kolonel Intel dan F.P (persiapan lapangan). Ia absen untuk tidak mengadakan pameran tunggal hampir sepanjang 40 tahun karena peran dan keadaan bangsa pada saat itu.

Setelah masa revolusi udah usai, April pada tahun 1976 ia mengadakan pameran tunggal di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Lebih berasal dari 70 lukisan dipajangnya. Agus Djaja mempunyai ciri khas dengan warna biru dan merah yang terkesan berikan nuansa magis. Ia juga sering menuangkan objek wayang di dalam tiap-tiap karyanya.

Setelah lama malang melintang di Ibukota, pada akhirnya Agus Djaja memutuskan untuk pindah Bali. Di sana ia mendirikan galeri dambaan di pinggir pantai Kuta.