Breaking News

3 Sastrawan Indonesia Yang Berhasil Membuat Kita Tergila-gila Pada Puisi

3 Sastrawan Indonesia yang berhasil membuat kita tergila-gila pada puisi – Puisi indah dan legendaris yang ditulis oleh penulis terkenal. Tentunya Indonesia memiliki banyak legenda dan penyair legendaris yang tidak kalah dengan penyair di dunia.

3 Sastrawan Indonesia Yang Berhasil Membuat Kita Tergila-gila Pada Puisi

Sumber : belajargiat.id

jean-michel-basquiat – Karya mereka sangat mempengaruhi kesusastraan nasional. Judul puisi oleh banyak penulis terkenal masih tetap diingat para pecinta puisi. Apa puisi legendaris itu? Siapakah penulis puisi legendaris itu? Mereka datang!

Berikut Tiga Sastrawan Indonesia yang berhasil membuat kita tergila-gila pada puisi

 Baca Juga : 4 Pelukis Terkenal Indonesia dan Alirannya

1. Chairil Anwar

Sumber : tribunnewswiki.com

Chairil Anwar (26 Juli 1922, lahir di Medan – meninggal di Jakarta pada 28 April 1949, umur 26 tahun), dijuluki “The Bitch Animal” (diambil dari karyanya “I”), adalah orang Indonesia yang paling terkenal. penyair. Diyakini bahwa ia telah menulis 96 karya dan 70 puisi. Ia diangkat oleh H.B. bersama Asrul Sani dan Rivai Apin. Jassin adalah pelopor generasi ’45 dan puisi Indonesia modern. Chairil lahir dan besar di Medan, lalu pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) bersama ibunya pada tahun itu.

Pada tahun 1940, ia merasa berada di dunia sastra. Setelah menerbitkan puisi pertamanya. Pada tahun 1942, Chairil terus menulis. Puisi-puisinya membahas berbagai tema dan tampaknya berasal dari pemberontakan, kematian, individualisme dan eksistensialisme, dan karena itu sering memiliki banyak interpretasi.

Chairil Anwar lahir pada tanggal 26 Juli 1922 di Medan, Sumatera Utara. Ia merupakan putra dari Toeloes dan Saleha di Kabupaten Lima Prua Kota, Sumatera Barat. Ayahnya adalah Bupati Indragiri Riau yang tewas dalam pembantaian Rengat.

Chairil Anwar menempuh pendidikan di Holland School of Indigenous History (HIS), sebuah sekolah dasar untuk masyarakat adat pada masa penjajahan Belanda. Ia kemudian melanjutkan studinya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Ketika dia berumur 18 tahun, dia tidak kembali ke sekolah. Chairil menjelaskan, sejak usia 15 tahun ia bertekad menjadi seniman.

Di usia 19 tahun, setelah orang tuanya bercerai, Ketua Julier dan ibunya pindah ke Batavia (sekarang Jakarta), tempat ia bertemu dengan dunia sastra. Meski telah bercerai, ayahnya selalu mendukung dirinya dan ibunya. Meski tidak bisa menyelesaikan studinya, ia tetap bisa Menguasai bahasa asing, seperti Jerman, Belanda, dan Inggris. Dia juga membaca karya penulis terkenal internasional.

Setelah puisinya yang berjudul “Nisan Moon” terbit, nama Chattier menjadi populer di dunia sastra. Pada tahun 1942, dia baru berusia 20 tahun. Hampir semua puisinya menyebutkan kematian. Namun saat pertama kali ia mengirimkan puisinya untuk diterbitkan. Saat menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta, Shetil jatuh cinta pada Sri Ayati, namun Shetil tidak berani membeberkannya hingga akhir hayatnya. Selama pendudukan Jepang di Indonesia, puisinya diedarkan di atas kertas murah dan tidak diterbitkan hingga Maret. Pada tahun 1945. Ia kemudian mewajibkan menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6 Agustus 1946. Mereka memiliki putri bernama Evawani Alissa, namun bercerai pada akhir tahun. Pada tahun 1948. Makam John Chairil (John Chairil) di Pemakaman Karet Beecher

Daya puitis Chairil tidak sama dengan kondisi fisiknya. Sebelum berusia 27 tahun, dia menderita banyak penyakit. Chairil meninggal di usia muda di RS CBZ Jakarta (sekarang RS Cipto Mangunkusumo) pada 28 April 1949. Penyebab kematian dikatakan tidak pasti, dan dikatakan terutama disebabkan oleh TBC. Sehari kemudian, dia dimakamkan di Pemakaman Umum Karet Bivak di Jakarta. Chairil dirawat di CBZ (RSCM) dari 22-28 April 1949. Menurut catatan rumah sakit, dia pernah mendapat perawatan untuk penyakit tifus. Meski begitu,  dengan kata lain, usus pecah. Namun, di akhir hidupnya, dia menjadi gila karena tinggi badannya. Ketika dia menyadari dirinya, dia berkata: “Tuhanku, Tuhanku …”. Pada sore hari tanggal 28 April 1949, dia meninggal pada jam 1/2: 3:00 dan dimakamkan keesokan harinya, banyak anak muda dan tokoh besar Partai Republik yang memindahkannya dari kamar mayat RSCM ke Karet. Pengagum yang tak terhitung jumlahnya mengunjungi kuburannya. Hari kematiannya selalu dikenang sebagai hari jadi Chatilil Anwar. A. Teeuw, kritikus sastra Indonesia dari Belanda, menjelaskan: “Chairil sudah tahu dia akan mati sebelum waktunya, seperti subjek penyerahan dalam puisi berjudul” Jang Terampas dan Jang Putus. “

Chairil menulis sekitar 94 karya dan 70 puisi sepanjang hidupnya. Biasanya tidak dipublikasikan sampai kematiannya. Puisi Chairil berjudul “Cemara Menderai Sampai Jauh”. Pada 1949, karyanya paling populer diberi nama Aku dan Krawang Bekasi. Ketiga buku terbitan Pustaka Rakyat ini memuat semua karyanya, baik itu karya asli, karya modifikasi atau karya yang diyakini hasil curian. Judul kompilasi pertama adalah Deru Mix Debu (1949), kemudian Sharp Pebbles and Yang Snatched and Broken (1949), dan Tiga Menguak Takdir (1950), yang merupakan kumpulan puisi bersama Asrul Sani dan Rivai Apin.

Karya tulis yang diterbitkan

Deru Campur Debu (1949)
Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949)
Tiga Menguak Takdir (1950) (dengan Asrul Sani dan Rivai Apin)

Diterjemahkan berasal dari Andre Gide
Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), terjemahan karya Andre Gide
Kena Gempur (1951), terjemahan karya John Steinbeck

2. Sapardi Djoko Damono

Sumber : sukabumiupdate.com

Profesor Dr. Sapardi Djoko Damono (lahir di Surabaya pada tanggal 20 Maret 1940, meninggal di Tangerang Selatan pada tanggal 19 Juli 2020 pada umur 80 tahun) adalah seorang penyair Indonesia yang terkenal. Ia biasa dipanggil dengan singkatan SDD. Ia dikenal dengan berbagai puisinya tentang hal-hal sederhana, namun sarat makna dalam hidup, sehingga lebih dari satu puisi tersebut terlalu populer di kalangan penulis dan masyarakat umum.

Masa mudanya dihabiskan di Surakarta dan ia mengenyam pendidikan dasar di SD Kesatryan Keraton Surakarta. Pendidikan menengah dilaksanakan di SMP Negeri 2 Surakarta (tamat 1955) dan SMA Negeri 2 Surakarta (tamat 1958). Di era ini, Sapadi telah banyak menulis karya yang pernah masuk ke majalah tersebut. Ketika belajar bahasa Inggris di Jurusan Sastra Barat (sekarang Fakultas Humaniora) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, minatnya untuk menulis semakin meningkat. Setelah menempuh studi singkat di University of Hawaii di Honolulu, Sapadi meraih gelar PhD di UI College of Letters dan lulus pada tahun 1989.

Setelah lulus dari perguruan tinggi, Sapadi (1964) mengajar di Sekolah Tinggi Keguruan Alfabet dan Seni IKIP Malang di Medien hingga tahun 1968. Pada tahun 1973, setelah bekerja di Semarang, ia dipindahkan ke Jakarta sebagai direktur eksekutif Yayasan Indonesia. Menerbitkan majalah sastra “Horizon”. Sejak tahun 1974, ia mengajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Setelah awalnya diangkat menjadi guru besar, Sapadi diangkat menjadi dekan Fakultas Sastra UI pada tahun 1995 hingga 1999. Di era itu, Sapadi juga menjabat sebagai editor majalah “Horizon”, “Basic”, “Kalam”, “Perkembangan Bahasa Indonesia”, majalah “Sastra dan Sains Indonesia”, dan editor nasional majalah “Southeast” di Kuala Lumpur. Setelah pensiun Sapardi melanjutkan mengajar di Sekolah Pascasarjana Akademi Seni Jakarta, sambil terus menulis karya fiksi dan non fiksi.

Penghargaan

Sapardi Djoko Damono telah meraih banyak penghargaan, salah satunya adalah SEA Writing Award tahun 1986. Selain itu, ia meraih Achmad Bakrie Award pada tahun 2003.

Karya

Aku Ingin

Saya hanya ingin mencintaimu Kata-kata yang tidak bisa diucapkan dengan kayu tidak akan pernah mengubah api menjadi abu Saya hanya ingin mencintaimu

Sinyalnya adalah awan tidak pernah punya waktu untuk turun ke hujan, yang membuatnya tidak ada apa-apanya
— Sapardi Djoko Damono

Puisi Sapadi telah diterjemahkan ke banyak bahasa, termasuk bahasa daerah. Ia tidak hanya aktif dalam pembuatan puisi, tetapi juga dalam cerpen. Selain itu, ia juga menerjemahkan karya berbagai penulis asing, menulis makalah, dan menulis banyak Kolom atau artikel. Setelah mantan mahasiswa FIB UI Ags Arya Dipayana, Umar Islam, Tatyana Soebianto, Reda Gaudiamo dan Ari Malibu membuat musik puisi, popularitas puisi-puisi tersebut semakin meningkat. Dilihat dari hasil musikalisasi puisi, Reda dan Tatyana (beradu akting dengan duet “Dua Ibu”) adalah salah satu album terpopuler. Selain itu, Ananda Sukarlan juga menafsirkan beberapa puisi Supardi pada tahun 2007.

Di bawah ini adalah karya Sapardi Djoko Damono kumpulan puisi dan beberapa karangan.

Sepilihan Sajak George Seferis
Puisi Klasik Cina
Lirik Klasik Parsi
Sihir Hujan
Water Color Poems
Suddenly The Night: The Poetry of Sapardi Djoko Damono
Afrika yang Resah
Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia
Hujan Bulan Juni (1994)
Black Magic Rain (translated by Harry G Aveling)
Arloji (1998)
Ayat-ayat Api (2000)
Pengarang Telah Mati
Mata Jendela (2002)
Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro? (2002)
Kolam (2009; kumpulan puisi)
Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita (2012; kumpulan puisi)
Namaku Sita
Hujan Bulan Juni: Sepilihan Sajak
Trilogi Soekram (2015; novel)
Hujan Bulan Juni (2015; novel)
Melipat Jarak (2015, kumpulan puisi 1998-2015)
Suti (2015, novel)
Pingkan Melipat Jarak (2017; novel)
Yang Fana Adalah Waktu (2018; novel)
Sepasang Sepatu Tua (2019; kumpulan cerpen)

3. Goenawan Mohamad

Sumber : idwriters.com

Biasanya disingkat GM. Dia seorang liberal, tapi juga seorang penulis dan kemanusiaan. Keterbukaannya pasti akan mempengaruhi pekerjaannya. General Motors menulis banyak puisi. Ia tidak hanya menulis puisi, tetapi juga menulis banyak karya sastra. Pendirinya kini ahli Tempo dan telah menulis sejak usia 17 tahun. Dia terus aktif menulis “Catatan Samping” Berlaku untuk majalah Tempo. Kitab suci yang tak terhitung jumlahnya membuat pembaca jatuh cinta padanya.

Yang tak menarik dari mati
adalah kebisuan sungai
ketika aku menemuinya.
Yang menghibur dari mati
adalah sejuk batu-batu,
patahan-patahan kayu pada arus itu